
Habitat alami kera sudah sejak lama menghadapi berbagai bahaya alam, termasuk erupsi gunung berapi, kekeringan, gelombang panas, hurikan, dan siklon. Namun, transisi penghidupan manusia ke pertanian dan industri skala besar menyebabkan kenaikan eksponensial pada populasi dan kegiatan manusia yang terus mengikis habitat kera, sehingga meningkatkan kerentanan kera terhadap bencana alam. Kejadian cuaca ekstrem akibat perubahan iklim dan peningkatan paparan kera terhadap penyakit zoonosis dari manusia, menimbulkan ancaman tambahan.
Bab ini menyajikan gambaran umum tentang prinsip manajemen penanggulangan bencana, dengan menggunakan sejumlah studi kasus untuk menunjukkan cara agar prinsip tersebut dapat diterapkan guna memitigasi dampak bencana di berbagai lingkungan kera, dan dengan mempertimbangkan berbagai faktor risiko untuk mendasari pengembangan upaya mitigasi guna meningkatkan kelangsungan hidup kera jika terjadi bencana. Bab ini menguraikan pendekatan untuk mitigasi risiko yang sepenuhnya mempertimbangkan aspek politik, lingkungan, ekonomi, sosial, teknis, operasional, legal, dan media/komunikasi di berbagai negara habitat kera.
Temuan utamanya mencakup:
- Meskipun bahaya alami dan antropogenik dapat terjadi kapan pun, dampaknya secara umum dapat dimitigasi melalui upaya mitigasi risiko yang dikembangkan secara terstruktur dan sistematis sebelum terjadinya dampak bahaya.
- Penelitian yang ditargetkan berperan dalam mengidentifikasi dan mengembangkan langkah tanggap darurat, termasuk dengan cara menjajaki peluang langkah tersebut dalam memberi manfaat bagi kera berisiko.
- Pemanfaatan pemetaan risiko dalam populasi kera untuk mengidentifikasi daerah yang paling berisiko dapat mendasari penentuan prioritas untuk mengembangkan pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons tanggap darurat.
